Sabtu, 19 September 2009

keutamaan mengikuti sunnah

MENGIKUTI SUNNAH MENGANGKAT KEHINAAN DAN KERENDAHAN DARI UMAT INI

Mengikuti sunnah mengangkat kehinaan dari umat , karena sunnah adalah agama dan meniggalkan itu penyebab kehinaan dan kerendahan.
Ahmad dalam Musnadnya, Abu Dawud dalam sunannya telah meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “JIka kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor sapi, senang dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menghinakan kalian dan Allah tidak akan mencabut kehinaan itu sehingga kalian kembali kepada agama.” Kembali kepada sunnah adalah kembali kepada agama.
Dalam hadits Jubril yang panjang, dimana hadits tersebut merupakan induk sunnah rasululllah, setelah menyebutkan rukun iman, rukun Islam dan Ihsan, beliau bersabda: “Ini adalah Jibril, dating kepada kalian untuk mengajarkan perkara-perkara agama kalian. “
Rasululllah mengabarkan suatu perkara yang akan terjadi dikemudian hari dan memberitahukan akibat perkara tersebut, agar umatnya terhindar darinya. Dalam hadits diatas beliau bersabada: “Apabila kalian berjual beli dengan cara ‘Inah.” I’Inahadalah salah satu bentuk jual beli, yaitu menjual barang tetapi barang tersebut masih menetap pada penjualnya dengan cara si penjual membeli lagi kepada orang yang telah membelinya. Contohnya, seseroang yang buth uang datang kepada orang yang memiliki mobil. Orang tersebut berkata kepada pemilik mobil: “Juallah mobil ini kepada saya dengan harga dua puluh ribu dengan kredit.” Pemilik mobil menjualnya seharga duapuluh ribu. Sang pemilik mobil tahu bahwa orang tersebut pada hakikatnya tidak menginginkan mobil tetapi membutuhkan uang. Pemilik mobilpun berkata kepadanya: “Saya beli lagi mobilnya seharga lima belas ribu kontan.” Hakikatnya orang tadi, mengambil uang dua puluh ribu secaara kontan tetapi ia harus membayar duapuluh ribu dikemudian hari. Bukankah seperti itu yang terjadi. Inilah yang dimaksud dengan jula beli ‘inah. Dinamakan ‘inah karena barang yang dijual tidak berpindah dari pemiliknya.
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli ‘inah ini sebagai pembendung tersebarnya bentuk jual-beli yang terlarang, karena yang terdapat dalam sistem transaksi dan jual beli kita adalah jual beli dan riba. Terlarangnya jual beli yang diharamkan adalah adanya riba di dalamnya, termasuk diantaranya jual beli dengan cara ‘inah.
SAbda beliau: “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah dan mengikuti ekor ekor sapi.” Dahulu dan sampi sekaran, di sebagian negara alat pembajak tanah di tarik dengan sapi betina atau jantan. Petani berjalan di belakang sapi tersebut dengan memegang alat pembajak dan menancapkannya ke tanah, sehingga tanah dapat terbalik. Dalam hadits ini rasulullah mengkiaskan kecenderungan hati kepada dunia dan apa yang ada di bumi ini dengan mengikuti ekor sapi, yakni mencocok tanam, mencintai harta dan mecintai dunia, sehingga sibuk dengan dunia dan meninggalkan jihad.
Sabda beliau “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor ekor sapid an meninggalkan jihad.” mengandung tiga perkara:
1- Jika kalian berjual beli dengan ‘Inah. Kami katakan, ini adalah larangan untuk semua jenis jual beli yang diharamkan.
2- Mengikuti ekor sapi, maknanya adalah mencintai dunia.
3- Meninggalkan jihad.
Apa akibat dari ketiga perkara ini jika kita mendapatkannya di suatu masyarakat? Yang akan kita dapatkan adalah “Allah akan memberikan kehinaan kepada kalian, dan Allah tidak akan mengangkatnya kecuali jika kalian kembali kepada agama.”
Kembali ke as sunnah adalah kembali kepada agama dan kembali ke agama adalah penyebab diangkatnya kehinaan dari diri kita. Jadi mengikuti sunnah adalah sebab diangkatnya kehinaan dari umat Islam.
Mengikuti sunnah rasulullah dan menjadikannya sebagai landasan hidup serta berusaha kersa untuk selalu berpegang teguh dengan apa yang telah diajarkan oelh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebab diangkatnya kehinaan dari kaum muslimin. Ini adalah salah satu dari keutamaan mengikuti sunnah yang dikhabarkan oleh rasulullah dalam hadits ini.
Dalam hadits Jibril yang panjang, rasulullah menyebutkan rukun Iman, Islam dan Ihsan, kemudian berkata: “Dia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.“ Dari sini dapat diketahui bahwa kehinaan itu tidak diangkat kecuali dengan kembali kepada agama, dan agama adalah mengetahui rukun iman, islam dan ihsan, bukankah demikian?
Barang siapa yang ingin kembali kepada agama maka ia harus mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan tiga perkara yang disebutkan dalam hadits jibril. Dengan hal ini, pantaskah para ulama’ hadits yang sibuk megajar manusia tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan thaharah, shaum, zakat, perkara-perkara yang berkaitan dengan keimanan, iman kepada Allah, malaikat, dan kitab-kitab Allah, dan mereka meninggalkan perbincangan tentang perkara yang tidak ada manfaatnya itu dicela?
Dengan hal ini, pantaskan para ulama hadits yang membicarakan hukum-hukum di atas dalam rangka mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka itu dicela dengan mengatakan, kalian hanyalah ulama’ haid dan nifas, bukan ulama’ yang menguasai kejadian terkini dan bukan pula ulama’ da’wah?
Pantaskah celaan ini ditujukan kepada ulama’ yang mengajarkan kepada manusia hukum-hukum di atas, mengajarkan agama, mengajarkan jalan keluar dari kehinaan, mengajarkan jalan yang telah ditunjukkah oleh rasulullah,ketika mereka menginginkan keselamatan diakhirat.
Apakah orang yang tidak mau mempelajari perkara-perkara agamanya, lalu megambil perkataan orang-orang sekuler, komunis dan negara-negara besar lainnya, ia tidak mau mempelajari apa yang dibutuhkan dirinya dari perkara-perkara agama, lalu ia mengajarkan kepada manusia perkataaan-perkataan tersebut, adalah orang yang mengajarkan agama? Apakah ini yang dinamakan kembali kepada agama sebagaimana yang dikehendaki rasulullah dalam sabdanya, Sehigga kalian kembali kepada agama, dan sebagaimana yang dikehendaki beliau dalam hadits Jibril yang mana di dalamnya beliau menyebutkan rukun iman , rukun Islam dan ihsan, setelah itu beliau bersabda: “Ia adalajh jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan agam kepada kalian.”
Mungkinkah kita mempelajari agama tanpa mempelajari bagaimana kita shalat? Mungkinkah kita mempelajari agama tanpa mempelajari thaharah (bersuci), dimana thaharah adalah kuncinya shalat? Mungkinkah kita mempelajari agama tanpa mengajarkan istri dan anak-anak peremppuan kita permasalahn haid dan nifas, padahal perkara ini selalu mereka temui? Mungkinkah kita belajar agama tanpa tanpa melakukan perkara-perkara itu semua?
Mungkinkah kita belajar agama sedangkan kita tidak mengetahui cara beribadah kepada Allah yang menyebutkan: “Aku shalat sebagaimana shalatnya rasulullah, aku haji seperti hajinya rasulullah, aku berpuasa sebagaimana puasanya rasulullah. Apakah dengan cara ini kita akan mengetahui agama?
Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa diantara keutamaan mengikuti as sunnah adalah mengangkat kerendahan dan kehianaan dari kaum muslimin.
Wahai saudaraku! Hiduplah dengan penuh kesengguhan, ikutalah sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bersemanagatlah dalam beribadah kepada Allah! Yakinlah, jika anda hidup di atas jalan ini maka anda akan menjadi orang yang shalih dan menshalihkan keluarga anda. Karena keshalihan diri akan mengakibatkan keshalihan keluarga. Keshalihan keluarga menumbuhkan keshalihan masyarakat. Keshalihan masyarakat akan mengakibatkan keshalihan kota, keshalihan kota akan menshalihkan Negara dan keshalihan Negara akan menjadikan shalihnya keidupan umat.
Kehslihan umat insya Allah akan menciptkan keshalilhan semua kehidupan yang ada di dunia ini. Bersungguh-sungguhlah dan mulailah dari diri anda sendiri kemudian orang yang ada di sekitar anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan komentar anda, berupa masukan, kritikan, pertanyaa dll. terimakasih.